Gadget  

Smartphone Modular: Apakah Akan Bangkit Lagi?

Smartphone Modular: Akankah Mimpi Kustomisasi Ini Bangkit Kembali?

Dulu, ada mimpi tentang smartphone yang bisa dirombak sesuka hati: ganti kamera, baterai, atau speaker hanya dengan melepas pasang modul. Inilah smartphone modular, sebuah konsep revolusioner yang menjanjikan kustomisasi tak terbatas dan masa pakai lebih panjang. Namun, mimpi itu seolah sirna. Akankah era modular ini bangkit kembali?

Masa Lalu yang Singkat

Proyek seperti Google Project Ara atau LG G5 sempat memukau, diikuti Motorola Moto Z dengan ‘Moto Mods’-nya. Konsepnya sederhana: beli satu unit dasar, lalu pasang modul sesuai kebutuhan. Ingin baterai lebih besar? Ganti modulnya. Ingin kamera super? Pasang modul kamera khusus. Ini adalah janji keberlanjutan dan personalisasi yang kuat.

Namun, tantangan teknis, biaya produksi yang tinggi, desain yang seringkali bongsor dan kurang estetis, serta kurangnya minat pasar yang masif membuat inovasi ini meredup. Konsumen ternyata lebih menyukai perangkat ramping, terintegrasi, dan mudah digunakan, ketimbang fleksibilitas modular yang rumit.

Kebangkitan yang Mustahil, atau Evolusi Cerdas?

Saat ini, pasar didominasi smartphone unibody yang mulus. Kebangkitan smartphone modular dalam wujud aslinya, di mana hampir setiap komponen bisa diganti, kemungkinan besar tidak akan terjadi. Desain terintegrasi menawarkan efisiensi ruang, ketahanan air, dan estetika yang sulit ditandingi.

Namun, semangat di baliknya—yakni keberlanjutan, kustomisasi terbatas, dan kemudahan perbaikan—bisa saja terintegrasi dalam desain smartphone masa depan. Isu keberlanjutan dan "Right to Repair" semakin mengemuka. Desakan untuk mengurangi limbah elektronik mungkin mendorong produsen untuk kembali mempertimbangkan elemen modularitas, bukan dalam bentuk bongkar pasang total, melainkan fitur-fitur yang memudahkan perbaikan atau penggantian komponen esensial seperti baterai atau layar.

Kesimpulan

Smartphone modular sebagai konsep "bongkar pasang total" mungkin sudah menjadi sejarah. Namun, gema dari visinya—yaitu perangkat yang lebih tahan lama dan mudah diperbaiki—bisa jadi akan menemukan jalannya kembali ke pasar, dalam bentuk yang lebih halus dan praktis. Mungkin bukan kebangkitan penuh, melainkan evolusi cerdas dari sebuah ide brilian yang terlalu cepat untuk zamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *