Akibat Kebijakan Harga Gas terhadap Industri Nasional

Gas Mahal, Industri Tercekik: Pukulan Telak bagi Ekonomi Nasional

Gas alam, sebagai sumber energi krusial, memainkan peran vital dalam roda perekonomian, terutama bagi sektor industri. Namun, kebijakan harga gas yang tinggi seringkali menjadi pedang bermata dua, memukul telak daya saing dan kelangsungan industri nasional.

Dampak Langsung: Pembengkakan Biaya Produksi dan Hilangnya Daya Saing
Kenaikan biaya produksi adalah dampak paling nyata. Industri yang sangat bergantung pada gas sebagai bahan bakar atau bahan baku utama, seperti pupuk, keramik, kaca, petrokimia, hingga makanan dan minuman, akan langsung merasakan dampaknya. Ini secara langsung menggerus margin keuntungan dan melemahkan daya saing produk lokal, baik di pasar domestik maupun global. Industri yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi justru kesulitan bersaing dengan produk impor dari negara dengan harga energi yang lebih kompetitif.

Dampak Jangka Panjang: Investasi Mandek dan Risiko Deindustrialisasi
Lebih jauh, kebijakan harga gas yang tidak kondusif dapat menghambat investasi. Investor akan berpikir ulang untuk menanamkan modal atau mengembangkan usahanya di Indonesia, bahkan berpotensi memindahkan basis produksi ke negara lain yang menawarkan biaya energi lebih murah. Akibatnya, pertumbuhan industri melambat, penciptaan lapangan kerja terhambat, dan risiko deindustrialisasi semakin nyata. Ini bukan hanya soal kerugian perusahaan, tetapi juga ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Keseimbangan Kritis untuk Masa Depan
Oleh karena itu, penentuan harga gas bukanlah sekadar hitungan ekonomi semata, melainkan keputusan strategis yang krusial. Pemerintah perlu mencari titik keseimbangan antara penerimaan negara dari sektor gas dan keberlanjutan industri nasional. Dukungan energi yang kompetitif adalah kunci untuk menjaga denyut nadi industri, mendorong inovasi, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat. Jika tidak, "gas mahal" akan terus menjadi beban berat yang mencekik potensi industri kita.

Exit mobile version