Akibat Kebijakan Mitigasi Bencana terhadap Kesiapan Warga

Jebakan Keamanan: Ketika Mitigasi Melenakan Warga

Kebijakan mitigasi bencana adalah pilar penting dalam upaya mengurangi risiko dan dampak dari berbagai ancaman alam. Mulai dari pembangunan tanggul, sistem peringatan dini, hingga regulasi tata ruang, semua dirancang untuk melindungi masyarakat. Namun, di balik niat mulia ini, tersimpan potensi "jebakan keamanan" yang justru dapat mengikis kesiapsiagaan warga.

Seringkali, keberadaan infrastruktur dan kebijakan mitigasi yang kuat dapat menumbuhkan rasa aman yang berlebihan. Warga cenderung berpikir, "Pemerintah sudah mengurusnya," atau "Bencana tidak akan terjadi di sini karena ada sistem canggih." Rasa percaya diri yang berlebihan ini, yang kadang disebut complacency, membuat inisiatif personal dan komunal untuk bersiap menjadi tumpul.

Akibatnya, kesadaran akan risiko menurun. Pengetahuan tentang jalur evakuasi, pentingnya tas siaga bencana, atau bahkan kemampuan dasar pertolongan pertama menjadi terabaikan. Warga mungkin kurang berpartisipasi dalam simulasi bencana atau enggan mempelajari tanda-tanda alam yang menjadi indikator bahaya. Ironisnya, mitigasi yang dirancang untuk melindungi justru dapat melemahkan kapasitas warga dalam menghadapi situasi darurat nyata.

Untuk mengatasi jebakan ini, kebijakan mitigasi harus bergeser dari sekadar "melindungi" menjadi "memberdayakan." Edukasi berkelanjutan, simulasi partisipatif, serta penekanan pada kemandirian dan kolaborasi komunitas adalah kunci. Hanya dengan begitu, mitigasi tidak hanya membangun benteng fisik, tetapi juga benteng mental dan sosial yang kokoh di tengah masyarakat, memastikan warga tetap waspada dan siap, bukan terlena oleh rasa aman semu.

Exit mobile version