Akibat Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Anak muda

Layar Penuh, Jiwa Kosong: Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Namun, di balik kilauan notifikasi dan unggahan menarik, tersimpan potensi ancaman serius terhadap kesehatan mental mereka.

Salah satu dampak paling nyata adalah jebakan perbandingan sosial. Anak muda kerap terpapar citra kehidupan yang disempurnakan, liburan mewah, atau pencapaian fantastis dari teman atau influencer. Hal ini dapat menimbulkan rasa tidak cukup, rendah diri, dan kecemasan karena merasa selalu tertinggal. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga merajalela, membuat mereka merasa tertinggal atau tidak relevan jika tidak terus-menerus terhubung.

Selain itu, sifat adiktif media sosial dapat mengganggu pola tidur karena cahaya biru dari layar dan dorongan untuk terus ‘scroll’. Ini berujung pada kelelahan, penurunan konsentrasi, dan suasana hati yang buruk. Waktu yang dihabiskan di dunia maya seringkali menggerus interaksi sosial di dunia nyata, memicu perasaan kesepian meskipun ‘terhubung’ dengan ribuan orang. Ancaman lain yang tak kalah serius adalah perundungan siber (cyberbullying) yang dapat meninggalkan luka emosional mendalam dan trauma.

Penting bagi anak muda untuk menyadari risiko ini dan mulai menerapkan batasan. Membuat ‘detoks digital’ sesekali, memprioritaskan interaksi tatap muka, dan mencari hobi atau aktivitas di luar layar dapat sangat membantu. Jika merasa tertekan atau mengalami gejala gangguan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan dari orang tua, guru, atau profesional kesehatan mental.

Media sosial adalah alat, bukan penguasa. Dengan kesadaran dan penggunaan yang bijak, kita dapat memastikan bahwa teknologi ini mendukung, bukan merusak, kesehatan mental generasi muda.

Exit mobile version