Akibat Program Cetak Sawah Baru terhadap Penciptaan Beras

Cetak Sawah Baru: Dilema Antara Janji Beras dan Tantangan Lahan

Program cetak sawah baru sering digulirkan dengan tujuan mulia: meningkatkan produksi beras nasional dan memperkuat ketahanan pangan. Secara teori, penambahan luas lahan tanam akan langsung berkorelasi dengan peningkatan volume gabah yang dihasilkan. Namun, realitas di lapangan kerap menyajikan gambaran yang lebih kompleks, bahkan dilematis, terhadap penciptaan beras yang berkelanjutan.

Potensi Positif yang Terbatas:

Tidak dapat dimungkiri, dalam kondisi ideal, pembukaan sawah baru memang berpotensi menambah kapasitas produksi beras. Ini bisa menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan jangka pendek, terutama di daerah yang memang memiliki lahan subur dan ketersediaan air melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Tantangan dan Akibat Negatif yang Mendesak:

Sayangnya, banyak program cetak sawah baru menghadapi kendala besar yang justru menghambat, bahkan menurunkan, efisiensi penciptaan beras:

  1. Lahan Tidak Ideal: Seringkali, lahan yang dialokasikan untuk cetak sawah baru bukanlah lahan sawah potensial. Tanah gambut, lahan marginal, atau bekas hutan yang dipaksakan menjadi sawah memiliki struktur tanah yang buruk, nutrisi minim, dan pH tidak sesuai. Akibatnya, produktivitas sangat rendah, membutuhkan input pupuk yang masif, dan tidak berkelanjutan.
  2. Kerusakan Lingkungan: Alih fungsi lahan, terutama hutan atau gambut, berisiko tinggi terhadap kerusakan lingkungan. Deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelepasan emisi karbon dari lahan gambut justru mengancam keberlanjutan ekosistem pertanian itu sendiri, termasuk ketersediaan air bersih di masa depan.
  3. Infrastruktur Minim: Lahan baru seringkali jauh dari infrastruktur irigasi yang memadai. Pembangunan saluran air dan jalan akses membutuhkan investasi besar dan waktu lama, yang jika tidak terpenuhi, membuat sawah baru kesulitan mendapatkan air dan menyalurkan hasil panen.
  4. Produktivitas Jangka Pendek: Jika pun menghasilkan panen di awal, produktivitas lahan baru yang tidak sesuai cenderung menurun drastis dalam beberapa musim tanam. Ini karena degradasi tanah, serangan hama penyakit yang adaptif, dan ketidakmampuan petani mengelola lahan yang asing bagi mereka.
  5. Biaya Tinggi, Hasil Rendah: Investasi besar untuk pembukaan lahan, pengadaan alat berat, hingga sarana produksi seringkali tidak sebanding dengan hasil panen yang didapat. Ini menciptakan inefisiensi ekonomi yang membebani anggaran negara dan tidak menguntungkan petani.

Kesimpulan:

Program cetak sawah baru, meski berlandaskan niat baik untuk ketahanan pangan, seringkali gagal dalam praktiknya menciptakan beras secara efektif dan berkelanjutan. Alih-alih menjadi solusi, program ini bisa menjadi bumerang yang merusak lingkungan dan menghamburkan sumber daya, tanpa memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi beras jangka panjang.

Penciptaan beras yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang lebih holistik: mengoptimalkan lahan sawah eksisting melalui intensifikasi pertanian, perbaikan irigasi, penggunaan varietas unggul, dan praktik pertanian yang ramah lingkungan. Bukan sekadar menambah luas lahan, tetapi memastikan setiap jengkal tanah mampu berproduksi secara efisien dan lestari.

Exit mobile version