Gadget  

Konektivitas 5G: Gadget Siap, Infrastruktur Belum?

5G: Gadget Sudah Canggih, Jaringan Masih Mengejar?

Era 5G sudah di depan mata, bahkan di genggaman kita. Hampir setiap ponsel pintar kelas menengah hingga atas yang rilis kini dilengkapi kemampuan 5G. Konsumen sudah siap dengan perangkat mutakhir ini, antusias membayangkan konektivitas super cepat untuk streaming, gaming, hingga inovasi IoT masa depan. Secara perangkat, kita sudah lebih dari siap.

Namun, di balik kegembiraan memiliki perangkat 5G, ada kenyataan pahit: infrastruktur jaringan 5G belum merata. Pembangunan jaringan 5G memerlukan investasi triliunan rupiah, penataan spektrum frekuensi yang kompleks, serta penambahan menara BTS (Base Transceiver Station) yang jauh lebih padat dari era 4G. Belum lagi tantangan perizinan dan ketersediaan serat optik hingga ke titik-titik krusial.

Akibatnya, di banyak wilayah, ponsel 5G kita masih ‘terpaksa’ bertumpu pada jaringan 4G, atau hanya merasakan 5G di titik-titik tertentu yang sangat terbatas. Potensi penuh 5G, seperti kecepatan gigabit dan latensi nyaris nol, belum bisa dinikmati secara luas.

Fenomena ini menciptakan kesenjangan antara ekspektasi konsumen dan realitas lapangan. Gadget 5G memang sudah siap tempur, namun ‘medan perangnya’ masih dalam tahap pembangunan. Untuk mewujudkan janji revolusi 5G, dibutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan industri, agar investasi dan regulasi dapat berjalan seiring percepatan pembangunan infrastruktur. Barulah konektivitas 5G yang sesungguhnya bisa dinikmati oleh semua.

Exit mobile version